Pertempuran Amerika di Medan Tempur Ideologi……
Koresponden United Press dari Washington melaporkan. Saat ini peperangan dunia melawan terorisme telah memsuki tahun yang ke-enam dan seiring dengan itu pemerintahan Amerika telah me-review dan meninjau kembali kerja-kerja mereka di bidang ini terutama dalam hubungannya dengan kiprah Amerika di kancah pertempuran yang lebih besar melawan terorisme, sebuah perang yang mereka istilahkan dengan perang ideologi.Perang melawan terorisme pada hakikatnya adalah perang yang berkesinambungan melawan ekstrimis, fanatis dan fundamentalis agama atau melawan kelompok-kelompok yang mempunyai keyakinan yang bukan agama tapi dalam keyakinannya berlebihan.Pada sisi lain perang ideologi adalah sebuah pembahasan filosofis, dimana ideologi fundamentalisme dunia Islam dihadapkan dengan toleransi dan kebebasan, dari sudut pandang ini dapat dikatakan bahwa Amerika dalam peperangan ini sampai sekarangpun masih terpuruk dalam kekalahan.Jajak pendapat yang dilakukan oleh Yayasan Zogbi International pada Desember 2006 menunjukkan sebagian besar orang-orang Arab di 5 negara kunci Arab menyikapi Amerika dan strategi politiknya dengan reaksi yang sangat negatif, di dua negara Arab, Jordania dan Maroko reaksi ini bahkan sempat mencapai tingkat yang membahayakan di sepanjang 2006. Oleh karena itu para petinggi Amerika sangat berusaha keras bagaimana agar mereka dapat memenangkan pertarungan ideologi yang mereka istilahkan itu, bahkan sebagian dari petinggi-petinggi itu telah mengambil langkah yang lebih maju, mereka berkesimpulan bahwa tindakan-tindakan pro-aktif Amerika akan lebih mengena sasaran dibanding jika negara ini hanya sekedar bertumpu pada konsep propaganda-propagandanya saja. Mereka mengatakan ide-ide demokrasi harus lebih di sebarluaskan bersamaan dengan menunjukkan bantuan-bantuan yang dilandasi belas kasih sesama manusia, juga harus dibarengi dengan usaha perluasan jaringan ekonomi di dunia Arab.Keberhasilan Amerika dalam perang ideologi inipun akan tercapai dengan syarat ia harus menerima poin penting yang mereka usulkan, Amerika hanya boleh memiliki satu target dan satu capaian sekunder, dalam pertempuran ideologi inipun ia hanya boleh menjalankan rancangan aslinya saja. Seorang pejabat kementerian pertahanan Amerika di Pentagon yang memiliki hubungan dekat dan memang tengah bekerja di bidang pembentukkan rancangan perang ideologi di kementerian ini sebulan yang lalu kepada seorang wartawan Associated Press mengatakan : menurut hemat saya kita harus memikirkan cara untuk dapat menancapkan pengaruh kita di tengah-tengah masyarakat dunia, langkah-langkah yang dengan itu masyarakat dapat kita letakkan dibawah pengaruh kita tidak hanya bertumpu pada apa-apa yang kita katakan saja, tetapi harus bersandar pada apa-apa yang kita lakukan dan hal yang penting lainnya adalah pertanyaan siapa sebenarnya kita. Tujuan kita tidak hanya berkisar pada tersampaikannya pesan-pesan kita saja. Dalam waktu 40 tahun selama perang dingin berlangsung, kita telah mampu melancarkan perang ideologi ini melawan komunisme dan totaliterisme dan berhasil meraih kemenangan.Pejabat ini menambahkan : selama perang dingin Amerika relatif lebih mudah melancarkan perang ideologi ini karena Uni Soviet waktu itu sangat menindas masyarakat. Pekerjaan ini khususnya di negara-negara Eropa Timur mudah dilakukan karena masyarakatnya secara budaya cenderung bersifat netral dan tidak memihak satu pihak tertentu, secara praktek merekapun tidak mengenal kita karena mereka hidup dalam sebuah lingkungan masyarakat yang tertutup, mereka bahkan tidak membenci kita waktu itu.Pejabat Pentagon ini mengatakan : medan perang yang baru lebih sulit dan memerlukan pendekatan-pendekatan yang jauh berbeda, di dunia Islam dimana masyarakatnya 60% menentang Amerika, pekerjaan ini akan menjadi sangat sulit untuk dilakukan. Cara pandang yang umumnya dimiliki masyarakat dunia Islam ini membuat sebagian masyarakat Timur-Tengah yang menganggap pemerintah-pemerintah negaranya sebagai penindas dan Amerika adalah pendukungnya, sedikitpun tidak memberikan bantuan kepada Amerika.Selanjutnya pejabat ini menjelaskan bahwa ketika Amerika akan memasuki kawasan Timur-Tengah mengetahui bahwa mereka (masy.Timur-Tengah) tidak menyukainya dan untuk merubah kondisi semacam ini dibutuhkan waktu yang cukup lama.Mengutip dari pejabat ini pula, perang ideologi memiliki dua medan tempur asasi dan Amerika cukup dengan memenangkan satu diantara dua medan tempur itu saja, yaitu usaha untuk menarik pemikiran masyarakat dan mengarahkannya pada satu pemikiran umum yang telah diciptakannya.Ia juga mengatakan Amerika tidak harus berperang menghadapi propaganda-propaganda para teroris itu, tetapi justru ia harus menemukan dan memberi penghargaan kepada pandangan-pandangan rival-rival pemikiran Islam di tengah dunia Islam itu sendiri.Ia kemudian menambahkan : saya tidak berpikir secara hitung-hitungan strategi kita perlu pada sebuah perang kata-kata. Para fundamentalis yang pro-kekerasan itu hanya memiliki satu suara saja. Saya berpikir dari sisi yang lain bahwa strategi kita mutlak harus mampu menciptakan sebuah kepercayaan dan mampu mewujudkan suara-suara lain (yang harus berasal bukan dari Amerika) untuk berkompetisi dengan suara para fundamentalis itu. Ia menjelaskan : pembahasan ini harus dibentuk oleh para misionaris dan da’i-da’i yang berada di tengah-tengah dunia Islam itu sendiri dan kemungkinan besar oleh misionaris dan da’i-da’i yang berasal dari Indonesia karena ia adalah negara muslim terbesar di dunia. Harian Jomhouri Eslomi (Iran) 17 Dzul Hijjah 1427, 7 Jnuari 2007 tag