Tatanan sebuah masyarakat dibangun atas dasar kebutuhan individu manusia. Suara nurani di kedalaman setiap lubuk hati manusia mengikrarkan hal serupa bahwa ia membutuhkan bantuan dari selainnya, tak terkecuali raja atau presiden sekalipun.Maka tidak berlebihan jika dikatakan manusia adalah makhluk sosial,dimana berkelompok dan berserikat merupakan kelaziman baginya karena di dalam kelompok dan komunitas-komunitasnya manusia menjalin hubungan-hubungan dengan sesamanya. Hubungan-hubungan ini dijalin atas dasar kesadaran saling membutuhkan diantara sesama pihak-pihak yang berhubungan tersebut. Pada dasarnya setiap hubungan yang dilakukan oleh manusia dengan sesamanya adalah sebuah proses transaksi, yaitu karena manusia memiliki kecenderungan untuk selalu melengkapi kelemahan serta menutupi borok-borok dirinya dan juga karena setiap manusia sejak lahir telah dikaruniai kelebihan dan kekurangan dibanding dengan sesamanya, maka ia melakukan sebuah proses tawar menawar dengan sesamanya demi menutupi kebutuhan hidupnya tersebut. Diantara semua kebutuhan-kebutuhannya yang sangat kompleks itu, jika digali lebih dalam ternyata umat manusia memiliki satu kebutuhan yang sama yang merupakan kebutuhan utama seluruh umat manusia, maka dalam proses tawar menawar itu disyaratkan laju pertumbuhan bersama yang seimbang. Oleh karena itu, hubungan diantara sesama manusia adalah hubungan kerjasama untuk saling bertransaksi satu sama lainnya demi terpenuhinya kebutuhan secara sehat dan manusiawi, dan bukan hubungan persaingan yang mensyaratkan kehancuran sebuah pihak demi keberhasilan pihak yang lain. Transaksi yang sehat dan manusiawi ini kurang lebih bersandarkan pada beberapa catatan penting berikut ini, pertama ia berlandaskan pada sebuah kesadaran bahwa manusia siapapun dia selalu membutuhkan kepada selainnya, hanya saja tingkat kebutuhan setiap orang berbeda secara kaualitas dan kuantitasnya. Berdasarkan landasan ini maka tidak ada satu orangpun di dunia ini yang berhak “berkuasa” atas yang lainnya; kedua ia juga berlandaskan pada sebuah kesadaran lain yang mengatakan bahwa tidak ada satupun manusia di dunia ini bersedia ditindas oleh orang lain, maka kesimpulan sederhananya adalah jangan menindas orang lain; kesadaran ketiga ialah karena manusia sadar bahwa dirinya membutuhkan orang lain dan orang lain membutuhkan dirinya walaupun dalam derajat yang berbeda, maka panggilan nuraninya mengatakan bahwa ketika ada orang yang membutuhkan sesuatu darinya maka dia akan membantunya walaupun sebaliknya secara langsung dia tidak mendapat sesuatu yang dia butuhkan dari orang yang dibantunya tadi, tapi minimal ia dengan membantu orang lain akan dapat memuaskan hatinya yang sebelumnya teriris-iris meliahat kesengsaran sesamanya yang membutuhkan itu; kesadaran keempat adalah setiap hubungan yang dibangun manusia itu mensyaratkan kepercayaan, mustahil sebuah kerjasama yang manusiawi tidak dibangun diatas kepercayaan, melihat kenyataan di masyarakat sekarang misalnya seorang menjadi ragu untuk memberikan bantuan kepada seorang pengemis, karena jangan-jangan dia hanya berpura-pura miskin saja karena malas bekerja.Kesimpulan umum yang dapat diambil adalah karena tidak ada satupun manusia yang tidak membutuhkan kepada selainnya dan tidak ada satupun manusia yang mau ditindas maka dalam interaksinya semestinya manusia tidak memberikan sedikitpun ruang kepada persaingan, penindasan dan ketidakadilan serta semestinya juga tidak ada satu orangpun yang tega menelantarkan sesamanya terpuruk dalam kefakirannya baik kefakiran secara materi ataupun immateri. Maka yang ada adalah kerjasama yang saling menguntungkan dan terus dijaganya gelombang perlawanan anti penindasan dan ketidakadilan di tengah-tengah masyarakat. Secara umum dapat dikatakan pula bahwa yang dimaksud dengan transaksi yang sehat dan manusiawi adalah transaksi yang logis, adil dan berperikemanusiaan. Jenis transaksi seperti ini lebih sesuai dengan fitrah manusia ketimbang jenis lain yang umumnya kita lihat dipraktekkan dalam masyarakat kita sekarang ini, karena praktek-praktek transaksi sosial di tengah-tengah masyarakat kita dewasa ini kebanyakan berlandaskan pada sebuah slogan “yang kuat memakan yang lemah”, sehingga para kontestan yang bermain di tengah interaksi sosial semacam ini hanya mempunyai dua pilihan, memakan atau dimakan, menindas atau ditindas. Pilihan ketiga yang berbunyi “tidak menindas juga tidak ditindas” adalah nihil disini. Maka mau tidak mau para peserta transaksi jenis ini akan menggunakan segala cara untuk menjadi kuat dan tetap kuat tak tergoyahkan, dan sebaliknya ia harus menekan si lemah untuk terus lemah tanpa bisa melawan. Praktek-praktek semacam ini jelas tidak logis, tidak adil dan tidak sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan. Ia layaknya sebuah hubungan interaksi segerombolan hewan di hutan dimana si macanlah yang akan selalu memegang tampuk kekuasaan dan terus melahap para lemah di sekelilingnya karena dialah yang dianggap paling kuat diantara yang lainnya.Tragisnya hubungan semacam inilah yang justeru banyak dipraktekkan di masyarakat, baik itu masyarakat Indonesia maupun masyarakat dunia pada umumnya. Sebuah contoh yang banyak kita temui sehari-hari misalnya nasib buruk yang terpaksa harus ditelan oleh orang miskin di negara kita yang akibat ketidakadilan yang merajalela maka ia mendapat predikat melarat di tengah-tengah masyarakat karena bukan lagi pendapatannya yang berada di bawah standar upah minimun daerah, tapi seringkali malah karena mereka tidak berpendapatan. Mereka tidak mampu membeli beras yang merupakan kebutuhan pokok sehari-harinya, karena pedagang beras di pasar terpaksa harus menaikan harga berasnya agar tidak rugi karena pasokan beras dari bulog kian terbatas dan kian mahal, karena bulog harus bersedia di peras dan dibagikan persediaannya selain kepada masyarakat juga kepada pejabat yang menguasainya untuk mengganti uang kampaye dan uang pelancar birokrasi pejabat tersebut yang dihabiskan sebelum dia berkuasa. Penindasan berantai seperti ini tentunya terutama dirasakan oleh golongan masyarakat kelas paling bawah, jika kita mau menggunakan tipologi kelas. Oleh karena itu jelas transaksi yang dipraktekkan seperti diatas sama sekali tidak berlandaskan pada rasa saling percaya diantara kedua belah pihak yang berinteraksi, tidak juga berlandaskan pada kesadaran-kesadaran manusiawi lain yang telah dikutip diatas, maka hasilnya sudah dapat kita prediksi yaitu terjadinya chaos di tengah masyarakat. Timbulnya sebuah masyarakat kacau adalah awal dinjak-injaknya nilai-nilai kemanusiaan. Muthahhari pernah mengatakan jika keadilan tidak bisa ditegakkan di tengah-tengah masyarakat maka pencapaian tujuan spiritual manusia pun tidak akan pernah bisa dilaksanakan. Padahal seperti telah dikutip diatas, pencapaian tujuan spiritual ini adalah kebutuhan yang sama diantara seluruh umat manusia dan merupakan tujuannya yang utama.Praktek-praktek interaksi sosial yang saling menindas ini dalam tataran dunia di komandoi oleh Amerika. Negara super power ini dengan seluruh kekuatan militer, ekonomi, politik dan kebudayaan yang dimilikinya berdasarkan pola pikirnya berusaha menggagas sebuah tatanan dunia yang dibangun diatas landasan penindasan, karena dia kuat maka sudah sewajarnyalah dia memakan negara-negara lemah terutama negara dunia ketiga dan negara-negara lemah ini tidak boleh menjadi pesaingnya dalam arti dia harus terus lemah dan harus selalu berada di bawah hegemoninya. Karena jika tidak maka dia tidak bisa mewujudkan gagasan tatanan dunia menurut pola pikirnya tersebut.Jika kita cermati secara sepintas, hubungan yang dibangun oleh Amerika dengan negara-negara lain sama sekali tidak berlandaskan kepercayaan. Kita lihat bagaimana dia sekuat tenaga berusaha mencegah jangan sampai Iran bisa menguasai teknologi nuklirnya, dengan alasan jika Iran menguasai teknologi tersebut ia akan mengarahkannya pada pembuatan senjata yang kemudian akan digunakan untuk menindas negara-negara lain. Kenapa Amerika tidak berpikir bahwa Iran atau negara-negara lain yang berhak juga menguasai teknologi nuklir ini mengarahkan tuduhan yang sama kepadanya bahwa jangan-jangan justeru Amerikalah yang dengan penguasaan teknologi nuklir ini membuat senjata dan digunakan untuk menindas negara-negara yang lain dan memang sudah terbukti kebenarannya. Ahmadi Nejad pernah mengatakan kepada Amerika dan sekutunya kenapa kami harus percaya kepada anda sementara anda tidak pernah mempercayai kami. Pada saat yang sama Iran telah berkali-kali membuktikan kepada dunia bahwa ia layak dipercaya misalnya dengan keikutsertaannya dalam IAEA dan menandatangai program NPT yang digagas barat. Ia bahkan siap untuk diawasi setiap saat oleh badan ini yang kemudian justeru malah mengkhianati Iran dan selalu membuka celah diplomasinya dengan Eropa. Tapi sebaliknya Amerika sampai saat ini justeru tidak menunjukkan sedikitpun usaha memperbaiki kepercayaan dunia internasional. Citranya semakin terpuruk dengan penindasan-penindasan yang terus dilakukannya terhadap rakyat Irak misalnya dan kejahatan-kejahatan publik lain yang dilakukannya seiring dengan slogan anti terornya yang malah paradoks dengan tindakan-tindakannya tersebut.Interaksi Amerika pun sejauh ini dibangun atas dasar bahwa negara-negara lain membutuhkan bantuannya sementara dia dengan segala kekuatannya tidak membutuhkan bantuan negara-negara lain, dia sepertinya tidak pernah berpikir bahwa beberapa saat saja aliran minyak yang mengalir ke negaranya diputus dari kawasan kaya minyak Timur Tengah maka sekian ratus juta penduduknya akan mati kelaparan. Tapi justeru Amerika malah membalik logika ini dan mengatakan kami akan memaksa negara-negara di kawasan Timur Tengah ini untuk terus mengalirkan minyaknya ke tangki-tangki minyak kami dan jangan sampai mereka memutuskannya jika hal itu sampai terjadi maka kekuatan yang akan berbicara disana.Amerika bahkan untuk membuktikan bahwa negara-negara lainlah yang membutuhkan dirinya dan bukan sebaliknya, pernah mengumpulkan pakar-pakar ekonominya untuk membahas metode imperialisme gaya barunya dan berhasil menghasilkan sebuah hipotesa baru yang mengatakan bahwa karena manusia memiliki sebuah dorongan di dalam dirinya untuk selalu memuaskan kebutuhan materinya yang tidak terbatas dan melihat kenyataan semakin hari pasar dunia semakin sempit saja dan tidak tersisa ruang pemasaran baru bagi Amerika sehingga membahayakan posisi super powernya maka para pakar itu menyarankan untuk mengalihkan cara pandang konvensional marketing Amerika yang sebelumnya hanya berusaha memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokok manusia saja, kearah penciptaan kebutuhan-kebutuhan baru yang semu yang sebenarnya tidak dibutuhkan oleh manusia. Maka aspek hasrat dan keinginan manusialah yang berusaha dipupuk oleh Amerika dan hanya merekalah yang nantinya mampu untuk memenuhinya. Sebuah LSM dunia untuk pengentasan kemiskinan pernah melakukan survey dan hasilnya adalah bahwa jika dana yang dialokasikan oleh hampir 90% wanita Inggris untuk pembeliaan alat-alat kosmetik dalam setahun dialihkan dan dialokasikan untuk biaya pendidikan anak-anak miskin di negara-negara dunia ketiga maka ribuan anak-anak itu akan terlepas dari kebodohan dan bisa mengenyam pendidikan yang merupakan haknya yang telah terampas sekian lama tersebut. Ainun Najib pernah berkata bahwa manusia bisa sukses dalam kehidupannya yaitu jika dalam setiap detik kehidupannya bisa memilah mana ghoyah dan mana wasilah . Ia contohkan bahwa makan itu bukan tujuan tapi wasilah saja untuk kemudian manusia bisa tetap bertahan hidup dan bisa beramal ibadah sehingga mencapai tujuannya di sisi Tuhan. Maka dengan cara berpikir seperti ini manusia tidak akan pernah disibukkan lagi dengan berbagai macam jenis, bentuk dan corak wasilah. Ia menyindir kondisi masyarakat Indonesia sekarang ini yang justeru cenderung sibuk dengan wasilah-wasilah dan malah mengiranya sebagai tujuan, ia contohkan bahwa ketika seseorang lapar maka ia harus makan, apa saja makanan yang penting halal, tapi masyarakat kita justeru sibuk dengan pertanyaan makan dimana ya? di Mc Donald atau Kentucky? makanan padang atau sunda? dan segudang pertanyaan lain yang harus dijawab oleh selera perutnya. Pola interaksi sosial ala Amerika pun tidak mengindahkan satu sisi kesadaran lain manusia yang lantang meneriakkan kepedihan hati manusia ketika melihat saudaranya yang lemah dan tidak berdaya. Ia malah terus membunuhi orang-orang Irak, Afghanistan demi kepentingan pribadinya, siapa yang peduli dengan mereka yang penting kami untung , menang dan selesai masalah. Tentunya kita pernah mendengar kisah seorang arif yang beristighfar selama 40 tahun hanya gara-gara mengucapkan alhamdulillah ketika tokonya di pasar tidak terbakar sementara toko-toko lain di sebelahnya terbakar. Ia berkata memangnya hanya aku saja yang hidup di dunia ini.Jelas bahwa hubungan dan interaksi seperti yang dipraktekkan oleh Amerika dan juga oleh sebagian besar bangsa kita sendiri adalah interaksi dan hubungan yang berlandaskan penindasan. Ia secara sadar sedang membangun sebuah sistem dunia yang dilandasi ketidakadilan. Rezim pongah sejenis ini tentunya tidak hanya menjadi musuh Iran, Kuba, Bolivia atau Venezuela saja misalnya tetapi lebih dari itu ia adalah musuh dari kemanusiaan, musuh semua umat manusia.Dapat dikatakan pula bahwa sejauh ini pergaulan Amerika di dunia internasional dan pergaulan sebagian besar politikus di negara kita sudah tidak dilandasi nilai-nilai kemanusiaan lagi. Aspek-aspek moral dan kesadaran-kesadaran manusiawi sudah menjadi barang langka di tengah-tengah masyrakat. Ia membangun hubungannya dengan tidak mengindahkan peringatan bahwa suatu hari mungkin dia akan sangat membutuhkan sesamanya, ia juga tidak pernah mempercayai orang lain dan membangun hubungannya atas dasar manipulasi-manipulasi dan kebohongan-kebohongan, ia tidak pernah peduli dengan kesengsaraan rakyat, dan penindasan adalah keharusan untuk menjaga kontinuitas kekuasaannya. Inilah premanisme. Preman tidak hanya berkeliaran di pasar, gang-gang sempit perkotaan, tempat-tempat hiburan atau terminal dan stasiun kereta, ia pun kadang-kadang duduk di podium-podium resmi di gedung-gedung mewah pemerintahan atau parlemen bahkan diatas mimbar-mimbar keagamaan. Ia pun tidak selalu berpakaian kumal, lusuh dengan mulutnya yang bau alkohol, kadang-kadang ia mengenakan tuxedo dan bau harum semerbak parfum berkelas. Ia juga tidak selalu menenteng pisau atau celurit, kadang-kadang ia pun menenteng revolver atau bahkan klasinkov atau bahkan menenteng resolusi dewan keamanan.Jika kita perhatikan, preman tidak pernah mau peduli dengan sesamanya walaupun mangsanya kadang-kadang adalah seorang ibu tua pedagang yang baru pulang dari pasar dengan membawa belanjaan seharga uang modalnya yang jika itu dirampas lepaslah semua, esok hari warungnya tidak terbuka lagi. Jika mangsanya berusaha membela haknya dan tidak mau memberikan hartanya maka resikonya adalah bayonet si preman harus bersarang di tulang rusuknya, dan jika keluarga si ibu melaporkannya ke polisi maka polisi akan meminta uang pelicin demi lancarnya proses penangkapan tersangka. Jika si pelaku tertangkap maka tak syak lagi keluarga si ibu ini akan menjadi bulan-bulanan teman-teman si pelaku dan terus menjadi incaran mereka serta terus berada di bawah tekanan mereka demi membalaskan dendamnya.Sebuah contoh lain misalnya, seorang politikus preman akan menghajar lawan politiknya habis-habisan tanpa melihat apakah ia menyuarakan kebenaran, tanpa melihat apakah ia tulus apakah ia berjuang sendiri atau berkelompok tidak peduli yang penting jika ia menggangu kepentingannya makan gasak saja. Pertama dia akan melakukan sebuah caracter assassination, dirusaklah nama lawan politiknya itu di tengah-tengah pergaulan sosial, untuk mendukung usahanya itu dan agar masyarakat percaya dengan tuduhannya itu maka ia melakukan usaha-usaha untuk menjatuhkan lawannya ini, ia mencari titik lemah lawan dan ketika ia lengah dijerumuskannyalah lawannya itu. Lawan politiknya itu kemudian tidak bisa melawan lagi karena ia sudah terisolasi dari lingkungannya, ia tidak punya teman lagi karena seolah-olah tuduhan yang dialamatkan kepadanya tersebut benar oleh masyarakat. Sebuah blunder penindasan yang lazim terjadi pada suatu masyarakat chaos. Apakah ini yang selama ini di praktekkan Amerika? Apakah ini yang berusaha ditiru politikus-politikus kita? Dan apakah ini yang dibiarkan oleh masyarakat kita terus merajalela? Jika iya maka tunggulah kehancuran. Seperti yang diisyaratkan Imam Ali dalam suratnya kepada Malik Asytar : ”Hati-hatilah, takutlah kepada Tuhan tentang ihwal kaum miskin yang tidak mempunyai cukup usaha, yang tidak punya daya dan tak berdaya. Diantara mereka terdapat orang yang menanggung sengsaranya secara diam-diam, dan juga orang-orang yang mengemis. Lindungilah hak-hak mereka, sebagaimana Tuhan yang telah menuntut anda untuk melindungi mereka. Untuk mereka sisakan bagian dari anggaran negara dan bagian dari hasil bumi dan pertanian yang diperoleh sebagai zakat di setiap area, karena di dalamnya -yang jauh maupun yang dekat- mereka mempunyai bagian yang sama. ( Amanat Keadilan Manusia, terjemahan dari surat politik Imam Ali kepada Malik Al Asytar, penerjemah Ammar Fauzi Heryadi, HPI Qom Iran Juni 2004). []