Menyambut Konferensi Internasional BKPPI Se Timur Tengah dan Sekitarnya 16-20 Juli 2007
Sebuah bangsa yang merdeka semestinya memiliki individu-individu masyarakat yang merdeka pula. Bumi pertiwi secara de facto telah memproklamasikan kemerdekaannya sejak 17 Agustus 1945, berarti sudah 62 tahun Indonesia hidup sebagai bangsa yang terlepas dari “penjajahan”. Tetapi apakah kita benar-benar sudah merdeka? Dengan tidak sedikitpun mengurangi rasa syukur kepada Tuhan dan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada para pahlawan bangsa, tentunya seperti kita ketahui ada sejumlah criteria bagi sebuah bangsa untuk dapat disebut sebagai sebuah bangsa yang merdeka dan terlepas dari segala macam penjajahan. Penjajahan adalah sebuah usaha memperbudak seseorang atau sekelompok orang dan atau sebuah bangsa untuk mengeruk sebanyak-banyaknya keuntungan darinya dan mengatur setiap gerak-gerik hidupnya demi terpenuhinya kepentingan si penjajah. Artinya sebuah bangsa yang dijajah betul-betul berada di bawah kontrol negara penjajah bahkan ia sama sekali tidak mempunyai hak untuk mengurusi detil-detil urusan rumah tangganya sendiri. Sebuah bangsa yang dijajah makan, minum, tidur, bekerja, belanja, menabung dan pekerjaan-pekerjaan lainnya harus dilakukannya sesuai dengan apa yang ditentukan oleh penjajah. Bahkan niat dan keinginannya sendiri yang merupakan hal privat pun harus disesuaikan dengan keinginan dan niat si penjajah. Kita dapat melihatnya sendiri contoh pada kondisi pemuda-pemuda harapan bangsa dan asset-asset nasional kita, makan dan minum lebih afdhal jika memakan makanan dan meminum minuman barat atau dengan gaya barat, bekerja, belanja di dan dengan gaya-gaya barat.Bahkan mereka menyesuaikan keinginan, gaya hidup dan pemikiran nya dengan keinginan, gaya hidup dan pemikiran barat. Maka jadilah pemuda-pemudi kita all american look. Hal yang sangat tidak kita inginkan adalah orang-orang barat seperti belanda jaman dahulu menyebut pemuda-pemuda kita itu dengan inlander jaman sekarang. Salah satu ciri penjajahan adalah hilangnya nilai-nilai kekreatifan dan kemandirian anak bangsa. Maka menurut kami adalah tepat kawan-kawan calon kiayi
indonesia kita sekarang yang sedang menuntut ilmu di markas-markas ilmu timur tengah melakukan urung rembug dalam sebuah konferensi internasional bertemakan kemandirian bangsa, semoga tidak hanya berkahir di meja diskusi kawan-kawan. Semoga langkah positif ini bukan hanya menjadi ajang persaingan pemilihan ketua umum BKPPI periode ke depan yang memang sementara ini terlihat kurang bonafid, tapi jadikanlah langkah positif ini sebagai awal sumbangsih langsung anak-anak bangsa untuk memberikan solusi berbagai permasalahan bangsa untuk menuju bangsa yang benar-benar merdeka terutama secara rohani. Seperti yang dicontohkan pendahulu-pendahulu bangsa terutama di PPI Nedherland yang dengan usahanya mampu menhasilkan seorang seperti Hatta dan kawan-kawan yang lainnya. Semoga sukses BRAVO BKPPI.
Sep kang.. moga aja sukses yach..
makasih ca’ keep support us…